April 14, 2021

Berita Dalam Negeri: Belajar Tatap Muka Dibuka Juli

HEADLINE: Target Belajar Tatap Muka Dimulai Juli 2021, Persiapannya? - News  Liputan6.com

Berita terbaru kali ini datang dari dunia pendidikan Indonesia. Pasalnya, setelah vaksinasi terhadap guru selesai, maka belajar tatap muka sekolah di Indonesia dibuka Juli 2021. Proses vaksin terhadap 5 juta guru dan tenaga kependidikan ditargetkan Mendikbud Nadiem Makarim dapat selesai di akhir Juni 2021. Jika berjalan dengan lancar dan selesai sesuai rencana, maka di Juli 2021 proses kegiatan belajar tatap muka di sekolah dapat terlaksana. Nadiem mengungkapkan bahwa dirinya ingin memastikan bahwa di akhir Juni sudah selesai dilakukan vaksinasi terhadap guru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, proses belajar tatap muka di sekolah sudah bisa dilakukan di Juli. Meskipun nanti proses belajar sudah dilakukan secara tatap muka, namun siswa dan guru tetap wajib mematuhi dan mengikuti protokol kesehatan di sekolah. Ia juga menegaskan bahwa protokol kesehatan pada proses belajar tatap muka di sekolah  harus tetap dilaksanakan untuk melatih kebiasaan baru.

Seperti yang sudah diketahui bahwa guru dan tenaga kependidikan menjadi prioritas vaksinasi tahap kedua. Hal ini mengingat karena siswa, siswi, dan pelajar lainnya ini sudah terlalu lama tidak belajar tatap muka di sekolah. Hingga saat ini, sekolah adalah salah satu sektor yang belum melakukan tatap muka. Ia juga menyebutkan bahwa akibat dari hal ini akan menyebabkan risiko dari dari pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang terlalu lama itu sangat besar. Karena hal Kemendikbud mengambil tindakan cepat agar guru dan tenaga kependidikan bisa memperoleh vaksinasi dan menjadi prioritas vaksinasi tahap kedua. Ia juga menambahkan bahwa proses belajar tatap muka di sekolah ini kemungkinan tidak akan dilakukan 100 persen, namun setidaknya ada langkah yang bisa memperkecil risiko dari PJJ itu sendiri. Terkait dengan proses belajar tatap muka yang tidak akan 100 persen ini ia jelaskan bahwa nantinya proses belajar tatap muka bisa terjadi dua kali seminggu atau tiga kali seminggu dengan sistem protokol kesehatan yang harus dijaga.

Guru sekolah dasar (SD), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) akan menjadi sasaran proses pemberian vaksin yang diutamakan. Setelah kelompok ini mendapatkan suntikan vaksin, baru kemudian diberikan juga kepada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Setelah itu kemudian dilakukan vaksinasi kepada perguruan tinggi. Bukan tanpa pertimbangan, proses ini dilakukan karena semakin muda tingkat sekolahnya, maka semakin sulit juga untuk dilakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebagaimana yang dijelaskan oleh Nadiem bahwa SD, PAUD, dan SLB adalah jenjang sekolah yang membutuhkan interaksi fisik dan tatap muka yang sering, meskipun nantinya proses belajar tatap muka di sekolah ini tetap harus mematuhi protokol kesehatan dari Kemendikbud dan Kemenkes.

Maxi Rein Rondonuwu sebagai Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes juga pernah mengatakan bahwa pekerja publik dan masyarakat yang berusia di atas 60 tahun adalah termasuk sasaran suntik vaksin tahap kedua. Di vaksinasi tahap kedua ini menyasar sebanyak 38.513.446 orang target vaksin, dimana sebanyak 5.057.582 orang adalah guru, tenaga kependidikan, dan dosen. Adapun angka yang lainnya adalah untuk lansia, pedagang pasar, tokoh dan penyuluh agama, wakil rakyat, pejabat negara, pegawai pemerintah, pekerja di pelayanan publik (perangkat desa, BUMN, BUMD, dan pemadam kebakaran), petugas transportasi, petugas keamanan, jurnalis, wartawan, dan pekerja media, atlet, serta mereka yang bekerja di sektor pariwisata seperti staf hotel, restoran, dan tempat wisata.