December 7, 2021

Dialektika

Dialektika

Dialektika

Definisi Dialektika

Dialektika adalah cara memandang sesuatu dalam keadaan bergerak daripada dalam keadaan diam. Pesan dasar dialektika adalah bahwa segala sesuatu selalu dalam proses perubahan yang dinamis, yang seringkali tidak terlihat dan tidak bergerak dalam garis lurus.

Untuk memudahkan kita memahami dialektika, ada tiga hukum utama gerak dialektika yang dapat kita rangkum:
1. Perubahan kuantitas untuk kualitas
2. Kutub yang berlawanan saling menembus
3. Penolakan penyangkalan

 

Jenis Perubahan Dialektika

Ada dua jenis perubahan, yaitu perubahan kuantitas dan perubahan kualitas. Perubahan besaran adalah jenis perubahan yang hanya mempengaruhi ukuran suatu benda atau benda. Sedangkan perubahan kualitas adalah perubahan dari satu sifat ke sifat lainnya. Kita bisa melihat dua jenis perubahan ini dalam ilmu alam dan ilmu sosial. Hukum dialektika mengajarkan bahwa perubahan kuantitas pada saat tertentu dapat menjadi perubahan kualitas, bahwa perubahan itu tidak selalu lurus, tetapi pada waktu tertentu tidak teratur.

Dialektika Hukum Pertama

Ada banyak contoh di alam yang menggambarkan hukum dialektika ini, seperti air mendidih. Jika kita menaikkan suhu air satu derajat dari 20 menjadi 21 derajat, kualitasnya tidak berubah. Air masih berupa air, hanya saja jumlahnya berubah. Kita bisa menaikkan suhu air ini satu derajat pada satu waktu sampai suhu air mencapai 99 derajat dan airnya masih air. Tetapi jika kita meningkatkannya sekali lagi, dari 99 derajat menjadi 100 derajat, menendang sesuatu, akan ada perubahan kualitas. Air mendidih dan berubah menjadi uap. Perubahan satu derajat (perubahan kuantitas) dengan demikian menyebabkan titik didih air menjadi uap (perubahan kuantitas). Hal yang sama berlaku untuk mengubah air menjadi es.

Tetapi hukum dialektika ini tidak terbatas pada alam tetapi juga pada hubungan sosial manusia. Revolusi adalah perubahan kualitas. Masyarakat tidak berubah secara perlahan atau bertahap, tetapi bergerak dengan langkah rasial. Revolusi Perancis tahun 1789, Jemaat Paris tahun 1871, Revolusi Inggris, Revolusi Rusia, Revolusi Cina, dll. Semua ini adalah perubahan kualitas dalam gerakan masyarakat. Tetapi revolusi tidak hanya merupakan perubahan kualitas, kontra-revolusi juga merupakan sebuah langkah, sayangnya sebuah langkah mundur. G30S dan periode pembantaian 1965-1966 dapat dilihat sebagai perubahan kualitas dalam gerakan buruh Indonesia, yaitu sebagai perubahan dari periode revolusioner ke periode reaksioner, sebagai penurunan.

Ledakan gerakan Reformasi tahun 1998 juga merupakan contoh perubahan kualitas. Setelah 32 tahun di bawah pengaruh rezim Suharto, di mana kesadaran tidak berubah secara dangkal, meskipun kesengsaraan penduduk semakin memburuk, akhirnya berubah pada 1997-1998. Kediktatoran Suharto tidak bisa lagi dijinakkan, orang-orang kehilangan rasa takut dan terjadi lompatan kesadaran.

Revolusi Tunisia juga memberi kita contoh lain tentang transisi dari kuantitas ke kualitas. Banyak orang bijak mengatakan bahwa revolusi Tunisia disebabkan oleh penghancuran diri Mohamed Bouazizi, seorang penjual buah. Mohamed Bouazizi sering diganggu oleh polisi dan akhirnya dia tidak tahan lagi dengan penindasan dan mengakhiri hidupnya dengan membakar dirinya sendiri. Apinya kemudian memicu revolusi Tunisia, yang berhasil menggulingkan diktator Ben Ali. Tapi dia bukan satu-satunya pedagang saham yang sering diganggu oleh aparat keamanan, dan dia bukan orang pertama yang bunuh diri karena tidak tahan dengan kesengsaraan hidup.

Di Indonesia sendiri, kita sering membaca berita tentang orang miskin yang bunuh diri karena kemiskinan. Penghancuran diri Bouazizi dengan demikian dapat dilihat sebagai perubahan kuantitas, yang kemudian berubah kualitas. Ini adalah setetes air yang membuat orang marah. Seperti yang dikatakan Engels: “Kebutuhan mengekspresikan dirinya dengan santai”. Situasi di masyarakat Tunisia sudah sangat panas dan hanya butuh ‘satu derajat Celcius’ untuk memasak, dan satu derajat diwakili oleh penghancuran diri Bouazizi.

Hukum Dialektika Kedua

Hukum dialektika kedua adalah kutub-kutub yang berlawanan yang saling menembus. Hukum ini mengajarkan kita bahwa kontradiksilah yang menggerakkan dunia. ‘Akal sehat’ mencoba membuktikan bahwa semua kekuatan yang berlawanan saling eksklusif, bahwa hitam adalah hitam dan putih adalah putih. ‘Akal sehat’ mencoba menyangkal kontradiksi sebagai bagian dari proses. Dialektika menjelaskan bahwa tanpa kontradiksi tidak ada gerakan, tidak ada proses.

Hidup dan mati adalah dua hal yang saling bertentangan, tetapi mereka adalah dua proses yang saling merasuki. Kita hidup, jantung kita berdetak, memompa darah ke seluruh tubuh kita untuk memasok oksigen dan nutrisi ke setiap sel tubuh kita supaya mereka bisa hidup dan tumbuh. Tetapi pada saat yang sama, puluhan ribuan sel di dalam tubuh kita mati setiap detiknya, hanya untuk digantikan oleh yang baru. Proses hidup dan mati ini saling merasuki di dalam tubuh kita sampai kita menghela napas terakhir kita. Proses ini yang menggerakkan kita.

Begitu pula masyarakat kita, yang bergerak karena kontradiksi. Revolusi sosial terjadi ketika tingkat produksi manusia sudah bertentangan dengan sistem sosial yang ada. Inilah basis dari setiap revolusi di dalam sejarah umat manusia, dari jaman komunisme primitif, ke jaman perbudakan, ke jaman feodalisme, dan sekarang jaman kapitalisme. Kontradiksi antara tingkat produksi dan sistem sosial terus saling berbenturan, saling merasuki, dan menjadi motor penggerak sejarah. Di jaman kapitalisme, kontradiksinya adalah antara sistem produksi yang bersifat sosial dengan nilai surplus yang diapropriasi secara pribadi.

Tidak ada satupun buruh yang bisa mengatakan bahwa dia sendirilah yang memproduksi sebuah komputer misalnya. Ribuan, bahkan ratusan ribu, buruh dari berbagai industri bekerja bersama memproduksi ribuan komponen terpisah yang lalu dirakit menjadi sebuah komputer. Oleh karenanya sistem produksi kapitalisme adalah sistem produksi sosial. Namun nilai surplus, atau produk tersebut, tidak menjadi milik sosial, dan hanya menjadi milik pribadi, yakni segelintir pemilik alat produksi tersebut. Kontradiksi inilah yang lalu membawa perjuangan kelas — kadang terbuka kadang tertutup — antara buruh dan kapitalis, yang terus menerus mendorong masyarakat kita.

Hukum Dialektika Ketiga

Hukum dialektika ketiga adalah negasi dari negasi. Hukum ini bersinggungan dengan watak perkembangan melalui serangkaian kontradiksi yang terus menerus menegasi dirinya. Namun penegasian ini bukanlah penyangkalan penuh bentuk yang sebelumnya, tetapi penegasian dimana bentuk yang sebelumnya dilampaui dan dipertahankan pada saat yang sama.

Manifestasi nyata hukum ini dapat kita lihat di sekitar kita. Contohnya adalah perkembangan sebuah tanaman. Sebuah benih yang jatuh di tanah, setelah mendapatkan air dan cahaya matahari, tumbuh menjadi kecambah. Lalu kecambah ini terus tumbuh menjadi dewasa, dan bila waktunya tiba maka kuncup-kuncup bunga pun muncul. Kuncup bunga ini kemudian menjadi sebuah bunga, dan bunga ini lalu menjadi buah yang mengandung biji-biji benih baru. Kecambah menegasi benih biji, yang lalu dinegasi oleh kuncup bunga. Kuncup ini lalu dinegasi oleh bunga yang mekar sekar, yang lalu sendirinya dinegasi lagi oleh buah dengan biji-biji di dalamnya. Setiap tahapan ini  berbeda secara kualitas, saling menegasi tetapi masih mengandung esensi dari tahapan sebelumnya. Setiap tahapan pertumbuhan tanaman ini terus bergerak menjadi satu kesatuan organik.

Benih-benih baru tersebut akan mengulangi siklus yang sama lagi. Namun benih-benih baru ini tidak akan sama dengan benih yang lama, karena dalam proses pembentukannya ia telah menyerap berbagai elemen-elemen dari luar. Dalam bahasa sainsnya, genetika benih baru ini telah mengalami perubahan melalui mutasi genetika yang disebabkan oleh berbagai faktor dan proses seperti sinar ultraviolet matahari, zat-zat kimia, dsbnya, dan juga melalui proses polinasi antar tanaman. Tumbuhan ini mengalami evolusi dan terus berubah. Jadi siklus pertumbuhan tanaman bukanlah sebuah lingkaran tertutup yang terus berputar-putar dan mengulang-ulang, tetapi sebuah siklus yang berbentuk spiral, yang bisa terus naik dan juga bisa turun, yang kalau dilihat dari satu sudut saja tampak seperti berputar-putar di satu tempat, tetapi kalau dilihat secara keseluruhan perputaran ini tidak diam di tempat tetapi bergerak naik secara spiral.

Sejarah pun demikian. Para sejarahwan borjuis terus mencoba membuktikan dan menanamkan di dalam pikiran rakyat kalau sejarah ini hanyalah sebuah pengulangan yang tidak berarti, yang terus bergerak dalam lingkaran tanpa-akhir. Sementara dialektika melihat sejarah sebagai sebuah perkembangan yang di permukaan mungkin tampak seperti pengulangan tak-berarti namun pada kenyataannya ia bergerak terus ke bentuk yang lebih tinggi karena diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Begitu juga dengan perkembangan gagasan dan sains di dalam masyarakat. Para alkemis zaman pertengahan memimpikan sebuah “batu filsuf” yang mereka percaya bisa mengubah timah menjadi emas. Di dalam pencarian utopis mereka ini, para alkemis ini menemukan berbagai pengetahuan kimia dan teknik-teknik kimia, yang lalu menjadi pijakan awal untuk ilmu kimia moderen. Dengan perkembangan ilmu sains yang berbarengan dengan perkembangan kapitalisme dan industri ilmu kimia pun tidak lagi digunakan untuk mencari “batu filsuf” dan orang-orang yang masih memimpikan transmutasi timah menjadi emas dianggap gila. Menjadi sebuah hukum bahwa sebuah elemen tidak akan bisa diubah menjadi elemen yang lain. Akan tetapi di dalam perkembangannya, ditemukan bahwa ternyata mungkin untuk mengubah satu elemen menjadi elemen yang lain, dan bahkan secara praktek ini sudah terbukti. Jadi setelah berabad-abad, alkemi menjadi sebuah kenyataan.

Tentunya secara ekonomi biaya untuk mengubah timah menjadi emas terlampau besar sehingga membuatnya menjadi tidak praktis. Di masa depan, bila tingkat teknologi dan produksi sudah mencapai ketinggian yang tidak pernah terbayangkan oleh kita, tidak akan mengejutkan kalau kita akan bisa mengubah timah menjadi emas dengan jentikan jari saja. Dengan demikian perkembangan ilmu kimia telah mengalami satu putaran: dari transmutasi elemen (mimpi), ke non-transmutasi elemen, dan kembali lagi ke transmutasi elemen (kenyataan).

Yang benar di alam juga benar di masyarakat, karena pada analisa terakhir gagasan-gagasan manusia mendapatkan dasar-dasarnya dari dunia materi. Pergerakan gagasan manusia, pergerakan masyarakat, semua mengikuti ilmu alam sebagai basis dasarnya. Para filsuf bayaran kaum borjuis ingin memisahkan apa yang benar di alam dengan apa yang benar di masyarakat, karena hukum alam adalah hukum revolusioner. Ia adalah hukum perubahan yang terus bergerak, bukan hanya dalam garis lurus tetapi juga dalam lompatan-lompatan. Setiap kelas penguasa tidak menginginkan perubahan karena mereka ingin terus hidup di dalam surga mereka yang abadi. Keabadian adalah filsafatnya kelas borjuasi. Dengan filsafatnya sendiri, yakni filsafat Marxisme, sebuah filsafat perubahan, kaum buruh akan mengetuk pintu surga abadi kaum borjuis, bila perlu mendobraknya, dan membersihkan surga bumi ini dari parasit-parasit borjuasi itu.

Sumber Rangkuman Terlengkap : https://www.seputarilmu.com/