December 7, 2021

Filsafat Marxisme

Filsafat Marxisme

Filsafat Marxisme

Sejarah Filsafat Marxisme

Secara historis, filsafat Marxisme telah menjadi filosofi perjuangan kelas pekerja untuk menggulingkan kapitalisme dan membawa sosialisme kepada umat manusia. Sejak filosofi ini dirumuskan dan dikembangkan terus-menerus 150 tahun yang lalu oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, filosofi ini secara langsung dan tidak langsung telah mendominasi perjuangan kaum buruh. Terlepas dari upaya para akademisi borjuis untuk menghapus atau mendistorsi Marxisme, filosofi ini masih tetap ada di sudut-sudut perjuangan kelas pekerja.

Oleh karena itu, filosofi ini milik kaum buruh dan bukan hanya milik kaum intelektual. Marx tidak berpikir tentang para filsuf intelektual dan terpelajar, tetapi tentang penggunaan para pekerja dalam perjuangan mereka. Alasan bahwa kaum buruh terlalu bodoh untuk memahami landasan filosofis Marxisme tidak lebih dari sebuah usaha borjuasi untuk memisahkan kaum buruh dari filosofi perjuangan mereka. Tidak ada yang dapat memisahkan pekerja dari filosofinya, karena dalam kehidupan sehari-hari pekerja menjalankan filosofi ini dalam pekerjaannya di pabrik. Alhasil, kaum buruhlah yang akhirnya bisa menerapkan filosofi ini dalam perjuangan melawan kapitalisme. Sejarah telah menunjukkan bahwa tentara intelektual yang dipersenjatai dengan Marxisme tidak pernah sampai sejauh tentara pekerja dengan senjata yang sama.

Marxisme adalah kata lain untuk filsafat yang disebut materialisme dialektis. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Barat dan Timur kemudian digabungkan dan disintesiskan oleh Marx untuk membentuk dialektika materialisme.

Pokok – Pokok Marxisme

Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita dapat membaginya menjadi tiga bagian seperti yang dijelaskan oleh Lenin, yaitu:
1. Materialisme dialektis
2. Materialisme sejarah
3. Ekonomi Marxis

Ketiga bagian ini biasanya merupakan bagian terpenting dari Marxisme. Namun pada dasarnya, materialisme historis adalah pemahaman sejarah dengan menggunakan metode materialisme dialektis, dan ekonomi Marxis adalah pemahaman sejarah dengan menggunakan metode materialisme dialektis. Semua aspek kehidupan dapat dipelajari dengan materialisme dialektis. Kebudayaan, seni, ilmu pengetahuan, dan lain-lain, semua ini dapat dipelajari dengan metode materialisme dialektis, dan hanya dengan metode ini kita dapat sepenuhnya memahami bidang-bidang ini.

Esensi Marxisme dengan demikian pada dasarnya adalah materialisme dialektis. Oleh karena itu, kita mulai dengan pemahaman materialisme dialektis. Tanpa pemahaman materialisme dialektis, kita tidak akan mampu memahami materialisme historis dan ekonomi Marxis.

 

Materialisme

Ketika kita berbicara tentang materialisme, kita berbicara tentang filsafat materialisme sebagai lawan dari filsafat idealisme. Di sini kita harus membedakan materialisme dari ‘materialisme’ yang kita kenal dalam percakapan sehari-hari. Biasanya, ketika kita mendengar kata materialisme, kita mengira itu hanya berarti memikirkan kesenangan duniawi, hanya untuk menikmati pesta dan menempatkan uang di atas segalanya. Dan ketika kita mendengar kata idealisme, yang kita maksud adalah orang yang memiliki harapan, rendah hati dan memiliki mimpi dan cita-cita yang mulia. Perasaan ular ini bukanlah makna materialisme dan idealisme yang sebenarnya dalam arti filosofis.

 

Kubu Utama Dalam Sejarah Filsafat

Ada dua kubu utama dalam sejarah filsafat, yaitu kaum idealis dan kaum materialis. Filsuf Yunani awal Plato dan Hegel adalah idealis. Anda melihat dunia sebagai cerminan dari ide, pikiran, atau jiwa seseorang atau makhluk yang maha kuasa. Bagi kaum idealis, hal-hal material muncul dari pikiran. Di sisi lain, materialis melihat bahwa materi adalah dasar dari segalanya, bahwa pikiran, ide, ide semuanya muncul dari materi yang ada di dunia nyata.

Kita dapat dengan mudah melihatnya. Sistem bilangan kami mengambil nomor sepuluh karena orang-orang kami memiliki sepuluh jari, jadi kami menghitung sampai sepuluh. Jika manusia memiliki dua belas jari, tidak mengherankan jika sistem bilangan kita mengasumsikan angka dua belas, bukan sepuluh. Oleh karena itu, konsep dasar matematika bukanlah sesuatu yang datang dari surga, bukan sesuatu yang tidak memiliki dasar material. Sedangkan kaum idealis akan menganggap bahwa angka sepuluh adalah konsep abadi yang akan selalu ada dengan atau tanpa kehadiran orang berjari sepuluh.

Kesadaran kita juga merupakan produk materi, yaitu otak kita sebagai salah satu organ kita. Ketika otak kita rusak karena cedera, kita kehilangan kesadaran. Otak kita tidak lebih dari kumpulan sel yang bekerja dengan bahan kimia. Maka jangan heran jika kita banyak minum alkohol akan mempengaruhi kesadaran kita, atau jika kita menggunakan obat-obatan terlarang atau menggunakan obat pereda sakit kepala Paramex, yang dapat meredakan sakit kepala kita. Kaum idealis, sebaliknya, mengatakan bahwa kesadaran manusia ini tidak ada hubungannya dengan otak, bahwa kesadaran manusia itu abadi. Ilmu pengetahuan telah menghilangkan idealisme dan sekarang kita tahu bahwa otak adalah basis material dari kesadaran kita.

Kesadaran kita, cara berpikir kita, kebiasaan kita; itu semua merupakan hasil interaksi kita dengan lingkungan sekitar kita, yaitu dunia material yang mengelilingi kita. Petani berpikir berbeda dengan pekerja karena mereka bertani di ladang setiap hari, sementara pekerja di pabrik harus bekerja dengan ratusan pekerja lain dan mesin menderu. Oleh karena itu, cara perjuangan kaum buruh berbeda dengan cara kaum tani, dan juga kesadaran mereka. Para pekerja yang dilemparkan ke dalam pabrik dalam jumlah ratusan dan ribuan memiliki rasa solidaritas dan organisasi yang lebih besar daripada para petani. Buruh membentuk serikat pekerja yang menjadi lokomotif sejarah dalam sejarah umum. Sedangkan petani, karena sebagian besar bekerja secara terpisah di bidangnya masing-masing, solidaritas dan kesadaran berorganisasi mereka umumnya lebih rendah. Kami mengatakan “secara umum” karena tidak menutup kemungkinan bahwa petani dapat bergabung dengan asosiasi petani. Di Indonesia misalnya, ada Front Boer Indonesia (BTI) yang sangat besar dan kuat, tetapi BTI juga ada karena dorongan Partai Komunis Indonesia, yaitu partai yang secara historis berbasis kelas pekerja Indonesia. Selain itu, sejarah juga membuktikan bahwa organisasi buruh pada umumnya lebih matang, lebih kuat, dan lebih konsisten daripada organisasi petani.

Dari contoh-contoh ini, tampaknya mudah bagi kita untuk menerima materialisme sebagai filosofi kita. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tampaknya idealisme merasuki cara berpikir kita tanpa kita sadari. Kaum kapitalis juga secara aktif membawa idealisme ke dalam pikiran rakyat pekerja untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Tertanam dalam pikiran kita bahwa ada yang namanya kodrat manusia dan kodrat manusia serakah dan egois. Karena sifat manusia ini, kapitalisme, sistem sosial yang didasarkan pada persaingan antara orang-orang berdasarkan keserakahan mereka, adalah sistem yang paling alami dan akan ada selamanya sebagai sistem yang paling sempurna dan paling utama. Inilah pembenaran yang sering kita dengar dari para pembela sistem kapitalis.

Sumber Rangkuman Terlengkap : https://www.sarjanaekonomi.co.id/