January 22, 2022

Keunggulan Green Diesel Dibandingkan Biodiesel

Ketergantungan terhadap energi fosil yang tinggi mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengembangkan pemakaian bahan bakar ramah lingkungan. Selain mengimplementasikan pemakaian bahan bakar berasal dari campuran solar dan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebanyak 30 % (B-30), Pemerintah juga mendorong pengembangan green fuel berbasis minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, menyatakan bahwa Pemerintah terus mendorong pemanfatatan bahan bakar nabati. Saat ini, tengah dikerjakan uji cobalah B-40 dan pengembangan green fuel yang nantinya diinginkan mampu membuahkan Green Diesel (D-100), Green Gasoline (G-100) dan Green Jet Avtur (J-100) yang berbasis CPO.

“Pemerintah menggandeng Pertamina untuk jalankan pengembangan green fuel di kilang-kilang Pertamina yang berada di sentra produksi sawit, baik secara co-processing di kilang-kilang existing maupun ke depannya bersama dengan pembangunan kilang baru (standalone) yang didedikasikan untuk green fuel.

Menurutnya, product green fuel ini membawa karakterisitik yang mirip bersama dengan bahan bakar yang berbasis fosil. Namun, untuk sebagian parameter dengan engukuran Fill Rite Flow Meter, kualitasnya jauh lebih baik berasal dari bahan bakar berbasis fosil fuel.

Green diesel atau Diesel Biohydrokarbon memliliki kelebihan dibandingkan diesel yang berbasis fosil maupun biodiesel berbasis FAME. Di antaranya adalah cetane number yang relatif lebih tinggi, sulfur content yang lebih rendah, dan oxidation stability yang lebih baik dan juga berwarna lebih jernih.

Co-processing merupakan tidak benar satu langkah yang dikerjakan untuk produksi green fuel melalui sistem pengolahan bahan baku minyak nabati bersama dengan minyak bumi secara bersamaan.

“Saat ini, Pertamina telah sukses menginjeksikan Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) terhadap unit Distillate Hydrotreating Refinery Unit (DHDT) di sebagian kilang eksisting bersama dengan mengfungsikan katalis Merah-Putih hasil karya anak bangsa, yakni Tim ITB,” ungkap Feby.

Di Refinery Unit II di Dumai, Riau, Pertamina telah jalankan uji cobalah secara bertahap. Dimulai berasal dari campuran 7,5, 12,5 hingga 100 persen.

“Kita patut menambahkan apresiasi atas kesuksesan Pertamina produksi green diesel bersama dengan bahan baku 100 % CPO. Harapannya uji cobalah ini mampu dilanjutkan di RU-RU lainnya dan diimplementasikan secara kontinyu sehingga kami terlampau mampu independen didalam membuahkan bahan bakar minyak yang ramah lingkungan bersama dengan bahan baku berasal dari didalam negeri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Feby memberikan bahwa didalam rangka menyamakan persepsi, selagi ini tengah disusun usulan nomenklatur untuk produk-produk BBN, yakni Biodiesel bersama dengan kode B-100, Bioetanol (E-100), Bensin biohidrokarbon (G-100), Diesel biohidrokarbon (D-100), avtur biohidrokarbon (J-100).